30 December 2009

Pida Sanglang Ohhh Pida Sanglang


Tidak pernah sekalipun aku membuka pekung Pida Sanglang tempat kelahiranku jua tempatku bermain. Tempat yang meniup semangat seorang anak yang ingin mengapai sang kejora. Embun rumput Pida Sanglang yang menghijau masih lagi melekat di kakinya.

Setiap 5 tahun pelbagai janji ditabur dan kelemasan penduduk di sana mengilai janji-janji yang tidak tahu entah bila akan dikota. Penat bak pungguk menunggu bulan yang tidak tahu bila jatuh keriba.

Setahu aku sedari dulu hanya satu tangki air yang membekalkan air kepada penduduk Air Hitam, Jerlun, Sanglang dan juga Pida Sanglang serta jua beberapa tempat lain yang sewaktu dengannya. Bertahun lama, dari Adun A ke Adun B dan C, D, E masih lagi tangki air yang sama. Aku tidak pasti kawasan lain namun bagi kami penduduk Pida Sanglang masalah tekanan air yang rendah seakan tidak berkesudahan dan air langsung tidak ada jika waktu puncak seperti hari minggu dan hari perayaan. Alhamdulillah mungkin sudah biasa dengan kegiatan ekonomi utama iaitu menaman padi, penduduk Pida Sanglang sentiasa beringat. Maklumlah dahulu sudah biasa dengan padi setahun sekali maka budaya ini menjadi resam dalam diri orang pida....beringat. Air di baldi tidak pernah kami curah walau terdengar guruh di langit. Baru satu kemelut Pida Sanglang......aku bagai tidak mampu menekan keyboard air mata mulai bermanik...


Benarlah kata abah.....siapapun boleh buat janji namun bolehkan janji tersebut direalitikan...




Mengapa harus begitu

Pagi tadi dalam kekalutan menuju ke arah selatan LDP...aku terdengar siren polis trafic..."bagi laluan..bagi laluan", seorang pegawai polis trafic memberi arahan. Aku menarik nafas panjang "orang besar...mahu perkara mudah sahaja, apa salahnya keluar awal redah sahaja trafic rasai apa yg hamba marhain ini rasa"....
Perkara yang paling tidak aku gemari ketika memandu adalah keadaan begini seolahnya lebuhraya atau jalan raya itu milik mereka.
Begitu juga dengan pemandu-pemandu kontena yang tidak berhemah. Sewenangnya menggunakan laluan laju demi kepentingan diri. Bila terjadinya mala petaka yang menjadi mangsa adalah pemamdu kereta atau penunggang motosikal.

29 December 2009

Doa Segala Penawar


Jalan Jitra Kodiang

Pulang menyambut hari raya baru-baru ini hati agak lega, Jalan Jitra-Kodiang telah pulih nampaknya tidak perlulah lagi kami menongkah arus ke Arau dan menuju ke Changloon kemudian ke Jitra semula. Namun agak kecewa dengan pembaik pulih jalan berkenaan. Tidaklah mengharapkan sebagaimana pihak Plus membaikpulih lebuh raya terpanjang di Malaysia namun apa salahnya jika semak samun pokok lalang ditepi-tepi jalan dan di pembahagi jalan di tebas. Aku dan suami menarik nafas panjang ketika melalui jalan ini. Sedih.

Laluan ini merupakan laluan utamaku ketika bersekolah di SMJ. Saat itu walaupun jalan rayanya sempit namun aku dapat menikmati keindahan Kodiang Lama, Padang Sera, Padang Perahu, Tunjang dan persekitaran jalan tersebut.

Masih dalam ingatan kesibukan Pekan Tunjang dan kemeriahan Nat Sabtu Pekan Kodiang.

Jalan Jitra Kodiang amat suram....

28 December 2009

Bukan Cinta Biasa (1)

By Abu Haidar at 10 Agustus, 2009, 9:46 pm
Ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla harus dibangun di atas landasan cinta, bahkan cinta adalah hakikat dari ibadah itu sendiri, sebab bila kita ibadah tanpa cinta maka ibadah kita ibarat kulit yang tidak memiliki ruh. Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya juz 1/95 menyatakan bahwa penggerak hati dalam ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla ada tiga, yaitu: rasa cinta, rasa takut, dan harapan.
Dan penggerak yang paling kuat di antara ketiga hal itu adalah cinta. Rasa takut akan membuat manusia berusaha agar tidak menyimpang dari jalan-Nya, rasa cinta akan menyebabkan dia berjalan menuju yang dicintainya, sedangkan harapan yang akan menuntunnya. Ibadah tidak akan sah tanpa ketiganya.

Bagian Cinta
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah cinta ada dua bagian.
Pertama, cinta ibadah
yaitu merasa rendah diri/hina dan mengagungkan. Hati manusia harus menghadirkan sikap mengagungkan terhadap yang dicintai serta memuliakan. Sehingga ia melaksanakan perintah yang dicintai dan menjauhi larangannya. Cinta jenis ini khusus ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Barangsiapa yang mencintai makhluk seperti kecintaan kepada Allah maka dia telah berbuat musyrik dengan kemusyrikan yang besar. Para ulama mengungkapkan cinta jenis ini dengan ungkapan cinta khusus atau bukan cinta biasa.
Kedua, cinta yang bukan ibadah. Terdiri dari:
Cinta karena Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu mencintai apa-apa yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla baik berupa manusia, seperti para nabi, para rasul, para shiddiqin, para syuhada, dan para shalihin, serta mencintai sesama muslim. Atau berupa amal perbuatan, seperti shalat, zakat, dan amal kebaikan lainnya. Atau berupa waktu, seperti bulan Ramadhan dan sepuluh hari terakhir di bulan itu, serta yang lainnya. Atau berupa tempat, seperti masjid, ka’bah, gunung Uhud, dan yang semisalnya. Mencintai semua itu berarti mencintai karena Allah ‘Azza wa Jalla. Dan cinta jenis ini termasuk cabang dari cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bahkan termasuk penyempurnaan tauhid serta tali iman yang paling kuat. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Tali Allah yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Bukhari).
Cinta kasih sayang, seperti mencintai anak kecil, orang miskin, orang sakit, anak yatim, dan sejenisnya.
Cinta memuliakan dan menghormati yang tidak berupa ibadah, seperti seseorang yang mencintai orang tuanya, guru atau orang dewasa ahli kebaikan.
Cinta thabi’i (naluri), seperti mencintai makanan, minuman, pakaian, kendaraan, dan tempat tinggal yang nyaman. Mencakup juga cinta kepada istri, anak, harta, dan jabatan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya, “Siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah!” Ditanya lagi, “Kalau dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Bapaknya!” Maksudnya adalah Abu Bakar. (HR. Bukhari dari Amr bin Ash).

Bukan Cinta Biasa (2)

Bukan Cinta Biasa (2)
By Abu Haidar at 22 Desember, 2009, 10:40 am
Cinta Mubah
Jenis cinta yang paling mulia adalah jenis cinta yang pertama, cinta karena Allah ‘Azza wa Jalla dan wajib kita miliki, sedangkan tiga jenis cinta yang lainnya adalah mubah. Kecuali apabila ketiga jenis cinta yang mubah ini dibarengi dengan hal-hal yang sifatnya ibadah, maka cinta jenis ini menjadi ibadah.
Seseorang yang mencintai orang tuanya dengan kecintaan pemuliaan atau penghormatan, apabila dibarengi dengan niat ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka kecintaannya bernilai ibadah. As-Sa’dy rahimahullah menyatakan bahwa apabila cinta yang mubah ini bisa membantu dan mendorong kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka berubah menjadi ibadah.
Namun apabila cinta yang mubah ini bisa menghalangi ketaatan dan kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla bahkan bisa menyeret kepada apa-apa yang tidak dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, maka cinta yang seperti ini berubah menjadi cinta yang terlarang. Tapi kalau tidak berpengaruh apa-apa dalam arti tidak menambah kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak mengurangi ketaatan kepada-Nya maka tetaplah dia dalam kemubahannya. (al-Qaul as-Sadid hal 90-97).
Cinta Naluri
Demikian pula cinta thabi’i (naluri) seperti mencintai makanan, minuman, dan seterusnya, apabila diniatkan untuk mendukung ibadah maka cinta inipun menjadi ibadah. Oleh karena itu Nabi diberikan rasa cinta kepada wanita dan minyak wangi dengan cinta naluri (HR. Ahmad dan an-Nasa’i dengan sanad yang hasan), tetapi diperlakukan dengan perlakuan yang sesuai dengan syari’at sehingga memberi maslahat yang besar bagi pribadi, ibadah, dan dakwah perjuangannya, maka kecintaan naluri ini bernilai ibadah.
Nabi pernah menyatakan bahwa orang yang menyantuni janda dan orang miskin seperti mujahid di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan beliaupun mengatakan orang yang seperti itu bagaikan orang yang shalat dan tak pernah berhenti atau seperti orang yang shaum dan tak pernah berbuka. (Muttafaq ‘alaih).
Bahkan orang yang menyantuni anak yatim akan memperoleh pahala dan bernilai ibadah karena mengamalkan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Rasul bersabda, “Aku dan orang-orang yang menjamin anak yatim akan berada di dalam surga seperti ini.” Lalu beliau berisyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Bukhari).
Walhasil, cinta yang mubah bisa berubah menjadi cinta ibadah apabila diniatkan untuk ibadah dan dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan syari’at. Hal ini berbeda dengan orang yang memiliki cinta yang mubah tetapi tidak diniatkan untuk ibadah. Seperti orang yang menyantuni anak yatim hanya karena riya, atau dorongan jiwa social atau hanya melaksanakan tugas sebagai pegawai panti social atau hanya dorongan kemanusiaan semata. Semua itu mubah dan tidak bernilai ibadah.
Nabi bersabda, “Amal itu bergantung kepada niat, dan setiap orang hanya akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari).

Back to School....

Seminggu lagi sekolah akan dibuka...cabaran baru buat putra putriku, kakak akan menghadapi UPSR, abang pulang memasuki tahun 4 dan alang tahun 2. Baju sekolah dan barang lain belum di beli....bila agaknya...mula nak pergi semalam namun mamanya ini tidak suka berjalan malam..bertangguh lagi
Kakak seperti selalu amat bersemangat dengan sekolah begitu jua abang & alang walaupun kebanyakkan masa dihabiskan dengan bermain. Itulah jiwa kanak-kanak.
Pagi tadi senarai buku yg mahu dibeli hilang di manalah anak2 simpan. Sudah diletak di rak buku namun anak2 yang sentiasa excited dengan benda baru mahu meneliti senarai tersebut.
Doa mama moga semua anak2 mama dipermudahkan Allah SWT dalam soal tollabulilmi ini... Ilmu membina tamadum sesuatu bangsa.....

17 December 2009

My Mad Story....All About Car


Cerita 1

Seperti hari sebelumnya, jika ke kedai "hardware" d'Neo aku akan meletak kereta berhadapan dengan kedai tersebut. Setelah mendapatkan segala barang yang diperlukan dan mengisi perut. Aku terus ke kereta dan menekan punat pengera kereta. Tidak berfungsi. Pelik. Baru dua tiga hari lepas "hubby" menganti bateri baru. Aku mencuba cara manual tidak boleh. Makin pelik. Seorang lelaki tidak jauh dari situ memerhatikan gelagat ku. 15 minit berlalu. Perkara terakhir yang mungkin aku lakukan ialah menelefon heroku....


Tiba-tiba ....aku terpandang ke dalam kereta. ...Ermm sejak bila aku menggunakan pewangi lemon sebegitu. "Alamak kereta orang rupanya"....Mataku menjalar kepersekitarn tempat meletak kereta...itupun hitam ku....




Cerita 2




Di petrol kios untuk mengisi minyak. Setelah membuat pembayaran aku kereta terus menghidupkan kereta dan bergerak keluar. Tiba-tiba mata terpandang meter minyak. Alamak terlupa nak isi minyak. Nasib baik masih dalam kawasan kios.





Cerita 3


Setelah selesai urusan di Pejabat Tanah Salak Tinggi, aku bergerak ke kereta. Punat pengera di tekan. Masuk di dalam kereta. Alamak mana boleh aku duduk di sini he he he ..sapa nak drive. Aku berpura mencari sesuatu agar aorang berdekatan tidak perasan aku tersilap....



Cerita 4


Berlaku lebih 6 tahun yang lepas....hujan renyai...keluar dari bagunan AHP TTDI aku terus menuju ke kereta. Pintu ku buka...alamak Baiii...salah kereta. Aku menutup kereta dari seberang jalan kelihatan Wan dan Wani terbahak-bahak ketawa dan Mr Hubby kelam kabut menuju ke arahku.


Cerita 5


Seminggu selepas pulang dari kampung. Ada satu bau pelik, mulanya aku ingatkan bau kasut anak-anak. Namun pada suatu hari bau tersebut datang dari bahagian enjin kereta. Malamnya aku meminta Mr Hubby melihat bahagian enjin tersebut. Alamak....seekor kucing terperangkap di dalam sana. Bulu-bulunya telah tercabut dan kulitnya telah lekang. Rupanya kucing itu adalah kucing yang selalu ke rumah mertua. .....Ralat sangat macam mana aku tak perasan ada kucing di dalam bahagian enjin kereta...




12 December 2009

Rahsia Memimpin Wanita

009 - Rahsia Memimpin Wanita
Tidak dapat dinafikan bahawa hidup wanita dipengaruhi dan dikuasai oleh perasaannya. Ini kerana wanita kaya dengan perasaannya. Sembilan persepuluh (90%) daripada wanita adalah perasaannya. Hanya satu persepuluh (10%) adalah pertimbangan akalnya. Justeru itu, untuk menghadapi dan memimpin mereka agar tunduk kepada Allah swt, maka kaum lelaki hendaklah bermain dengan perasaan mereka sebanyak yang mungkin. Jenis-jenis perasaan yang ada pada wanita amatlah banyak, antaranya perasaan marah, dendam, rasa malu, jemu, kecewa dan banyak lagi. Perasaan-perasaan ini boleh digunakan untuk kepentingan agama, dunia dan akhirat. Bahasa samada dalam lisan atau tulisan adalah alat bagi membangkitkan rasa bagi setiap perasaan di dalam dada wanita. Dalam memimpin kaum wanita, kaum lelaki hendaklah cekap menggunakan daya fikir untuk mengolah bahasa dengan lidah yang petah supaya tercetus apa sahaja perasaan yang dikehendaki dalam hati perempuan. Sekiranya lelaki inginkan perasaan kasih dan sayang berbunga dalam dada mereka, maka bawalah cerita-cerita kasih mesra dengan kata-kata hukamak (hikmah) mengenai kasih sayang. Sekiranya lelaki mahu perasaan rindu bertapak di hati mereka, maka bawalah kisah-kisah rindu dengan kata-kata yang berunsur kerinduan. Jikalau hendak membangkitkan rasa marah mereka, itu amatlah mudah kerana semua orang tahu caranya. Dalam membimbing dan memimpin wanita, lelaki hendaklah merancang untuk mengubah dan mewujudkan setiap rasa yang dikehendaki dalam dada wanita yang bergelar anak, isteri dan ibu. Untuk itu seharusnya, kaum lelaki tahu dan mempunyai daya kekuatan yang tinggi supaya dapat merancang apa yang diingini pada diri setiap wanita sebelum memiliki mereka. Disinilah antara kejayaan para Rasul, Nabi dan wali Allah swt dalam memimpin umat manusia. Mereka dapat menguruskan hati manusia kerana berjaya mencetak perasaan mereka hingga menjadi umat yang patuh dan taat kepada Allah swt. Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, hati, fikiran, perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala- galanya. Apalagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s. tetap merindukan Siti Hawa. Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, isteri atau puteri. Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka. Tidak logik kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan cara petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa dari bahagian tubuh lelaki. Didiklah mereka dengan panduan dariNya: JANGAN CUBA JINAKKAN MEREKA DENGAN HARTA, NANTI MEREKA SEMAKIN LIAR, JANGAN HIBURKAN MEREKA DENGAN KECANTIKAN, NANTI MEREKA SEMAKIN MENDERITA. Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah, Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal, disitulah kuncinya. AKAL SETIPIS RAMBUTNYA, TEBALKAN DENGAN ILMU, HATI SERAPUH KACA, KUATKAN DENGAN IMAN, PERASAAN SELEMBUT SUTERA, HIASILAH DENGAN AKHLAK . Suburkanlah kebaikan karena dari situlah nanti mereka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana menteri negara atau women gladiator. Bisikkan ke telinga mereka bahawa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya itulah kasih sayang Allah, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki-lelaki berwajah: negarawan, karyawan, jutawan, hartawan, dan wan-wan lain. Tidak akan lahir superman tanpa superwoman. Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan. Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan . LEBIH BANYAK LELAKI YANG DIROSAKKAN OLEH PEREMPUAN DARIPADA PEREMPUAN YANG DIROSAKKAN OLEH LELAKI. SEBODOH-BODOH PEREMPUAN PUN BOLEH MENUNDUKKAN SEPANDAI-PANDAI LELAKI. Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal Tuhan. Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan setiausaha, bahkan anakpun akan kehilangan ibu, suami kehilangan isteri dan bapa akan kehilangan puteri. Bila wanita durhaka, dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa. Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepimpinan diri. Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah PIMPINLAH DIRI SENDIRI DAHULU KEPADA-NYA, jinakan diri dengan Allah, niscaya jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan anda. JANGAN MENGHARAP ISTERI SEPERTI SITI FATIMAH BINTI RASULULLAH SAW, KALAU PERIBADI BELUM LAGI SEPERTI SAYIDINA ALI

12 - Petua untuk dimurahkan rezeki dan dijauhkan kesulitan

12 - Petua untuk dimurahkan rezeki dan dijauhkan kesulitan
Abu Yazid Al Busthami, pelopor sufi, pada suatu hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan keningnya selalu berkerut. Dengan murung lelaki itu mengadu,"Tuan Guru, sepanjang hidup saya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Isteri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki. Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan?"

Sang Guru menjawab sederhana, "Perbaiki penampilanmu dan rubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya." Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya. Wajahnya senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu ia tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah. Keserasian selalu dijaga. Sikapnya ramah,wajahnya senantiasa mengulum senyum bersahabat. Roman mukanya berseri.

Tak heran jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah roman muka yang ramah dan penuh senyum. Bahkan Rasulullah menegaskan, senyum adalah sedekah paling murah tetapi paling besar pahalanya .
Demikian pula seorang suami atau seorang isteri. Alangkah celakanya rumah tangga jika suami isteri selalu berwajah tegang. Sebab tak ada persoalan yang diselesaikan dengan mudah melalui kekeruhan dan ketegangan. Dalam hati yang tenang, pikiran yang dingin dan wajah cerah, Insya Allah, apapun persoalannya nescaya dapat diatasi. Inilah yang dinamakan keluarga sakinah, yang didalamnya penuh dengan cinta dan kasih sayang.